Analisis Fungsi Al-Quwwah Al-Alimah (Daya Mengetahui) dalam Membentuk Karakter Ulul Albab: Studi Tokoh Al-Ghazali
DOI:
https://doi.org/10.55120/sirajuddin.v5i1.2551Keywords:
karakter, pendidikan Islam, jiwa, intelektual-spiritualAbstract
Abstrak ini menganalisis fungsi al-quwwah al-‘ālimah (daya mengetahui) dalam pembentukan karakter ulul albab berdasarkan pemikiran Al-Ghazali. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana struktur daya mengetahui dalam jiwa menurut Al-Ghazali dapat menjadi landasan konseptual bagi pembentukan sosok ulul albab yang berimbang secara intelektual, spiritual, dan moral.
Latar belakang kajian ini bertumpu pada kebutuhan pendidikan Islam kontemporer untuk melahirkan manusia berkarakter ulul albab, yaitu sosok yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan ilmu, dan kematangan akhlak di tengah krisis moral modern. Pemikiran Al-Ghazali diposisikan sebagai kerangka klasik yang relevan, karena ia merumuskan struktur jiwa dan sumber-sumber ilmu (indra, akal, dan ilham) secara sistematis serta mengaitkannya dengan tujuan pendidikan, yakni kebahagiaan dunia–akhirat melalui tazkiyatun nafs dan pembentukan akhlak mulia.
Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan historis-filosofis terhadap karya-karya utama Al-Ghazali, seperti Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, dan tulisan-tulisan tentang jiwa dan akal, yang kemudian didialogkan dengan literatur tentang ulul albab dan pendidikan karakter. Data dianalisis melalui langkah pengumpulan, klasifikasi, dan interpretasi konsep-konsep kunci tentang al-quwwah al-‘ālimah serta karakter ulul albab, sehingga tampak hubungan fungsional antara struktur daya mengetahui dan pembentukan kepribadian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-quwwah al-‘ālimah pada Al-Ghazali, yang mencakup akal teoretis, praktis, dan keterbukaan pada ilham, berfungsi sebagai pusat pengolahan pengetahuan yang mengarahkan kehendak dan perilaku moral. Ketika daya mengetahui ini dibina melalui kombinasi dzikr, fikr, dan amal saleh sebagaimana karakter ulul albab dalam Al-Qur’an, ia melahirkan pribadi yang kokoh akidah, tajam nalar, lembut spiritualitas, serta berakhlak mulia dalam perilaku sosial.
kesimpulannya, integrasi konsep al-quwwah al-‘ālimah Al-Ghazali dengan ideal ulul albab menyediakan landasan teoritis yang kuat bagi desain pendidikan karakter Islam yang holistik. Penguatan daya mengetahui bukan hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi spiritual dan etis, dipandang strategis untuk membentuk generasi ulul albab yang mampu merespons tantangan zaman tanpa kehilangan orientasi tauhid dan akhlak
References
Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Jilid III (Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t.), 14.
Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978), 136
AbuHamid Al-Ghazali, Ma’arij al-Quds fi Madarij Ma’rifat al-Nafs (Kairo: Maktabah al-Jundi, 1968),
Yasien Mohamed, The Path to Virtue: The Ethical Philosophy of al-Raghib al-Isfahani (Kuala Lumpur: ISTAC, 2006), 210. (Digunakan sebagai pembanding konteks psikologi moral klasik
Lihat misalnya: Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (Jakarta: Paramadina, 1996), 560; yang membahas Ulul Albab dari sisi sosiologis
M. Amin Abdullah, The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali and Kant (Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992), 45
Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas (Bandung: Mizan, 2003), 188. (Membahas perlunya internalisasi adab yang sering luput dalam kajian teknis)
Malik Badri, The Dilemma of Muslim Psychologists (London: MWH London Publishers, 1979), 89.
Osman Bakar, Classification of Knowledge in Islam (Cambridge: Islamic Texts Society, 1998), 205
Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Psikologi Kenabian: Prophetic Psychology (Yogyakarta: Pustaka Al-Mujadi, 2004), 112.
Almustofa open university:metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam Pendidikan islam
https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/insis/article/download/18345/pdf
Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin Jilid III, (Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.th), hlm. 12.
M. Yasien Mohamed, Insan: A Psychological Conception, (Kuala Lumpur: Ikraq, 1998), hlm. 45.
Abu Hamid Al-Ghazali, Mishkat al-Anwar, terj. W.H.T. Gairdner, (Lahore: Sh. ^Muhammad Ashraf, 1952), hlm.89.
Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), ^hlm. 98.
Abu Hamid Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, (Beirut: Dar al-Minhaj, 2005), hlm. 25.
Raghib Al-Isfahani, Mu'jam Mufradat Alfazh Al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Qalam, 1412 H), hlm. 733.
Abu Hamid Al-Ghazali, Jawahir al-Qur'an, (Makkah: Maktabah al-Tijariyah, t.th), hlm. 32.
Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988), hlm. 210.
Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Munqidh min al-Dalal, (Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1972), hlm. 40.
Achmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur'an, (Jakarta: Paramadina, 2000), hlm. 67.
Abu Hamid Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2004), hlm. 105.
Zainuddin Sardar, Islamic Futures: The Shape of Ideas to ^Come, (Kuala Lumpur: Pelanduk Publications, 1988), hlm. 55
Abu Hamid Al-Ghazali, Nasihat al-Mulk, terj. F.R.C. Bagley, (London: Oxford University Press, 1964), hlm. 14.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ABIM, 1978), hlm. 78.
Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin Jilid IV, Beirut: Dar al-Fikr, 1995), hlm. 201.
Rosnani Hashim, Educational Dualism in Malaysia, (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1996), hlm. 44.
Imam Suprayogo, Reformulasi Visi Pendidikan Islam, Malang: UIN Maliki Press, 2015), hlm. 32.
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 88.
Abu Hamid Al-Ghazali, Faisal at-Tafriq baina al-Islam wa al-Zandaqah, (Damaskus: Dar al-Hikmah, 1993), hlm. 22.
Abdul Karim Al-Jili, Al-Insan Al-Kamil, (Kairo: Maktabah Mustafa al-Babi al-Halabi, 1970), hlm. 9.
Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin Jilid III, (Kairo: Dar al-Hadits, 2004), hlm. 18.







