Ekonomi sebagai pemicu perceraian: analisis perkara Pengadilan Agama melalui teori stres ekonomi dan pertukaran sosial

Penulis

  • Achmad Abdillah Institut Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang

Kata Kunci:

perceraian, tekanan ekonomi, nafkah, pertukaran sosial

Abstrak

Faktor ekonomi menjadi alasan perceraian terbesar kedua di Indonesia, yakni 100.198 dari 399.921 perkara pada 2024, sementara sekitar 77% perceraian berupa cerai gugat. Artikel ini bertujuan menjelaskan bagaimana tekanan ekonomi dan nafkah yang tidak terpenuhi berubah menjadi putusnya perkawinan di Pengadilan Agama.

Ekonomi” tidak tercantum sebagai alasan cerai dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 maupun Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam. Pertanyaannya, bagaimana fakta ekonomi diterjemahkan menjadi dalil hukum dan mengapa istri paling sering menggugat.

Penelitian hukum empiris berbasis studi dokumen atas statistik BPS 2024, data perkara dan temuan putusan Pengadilan Agama Bandung, Bangil, Medan, Kraksaan, dan Tangerang, serta bahan hukum primer, dianalisis dengan analisis isi direktif.

Ekonomi dan perselisihan menyumbang 87,9% perceraian. Di Pengadilan Agama Bandung, rasio perkara ekonomi terhadap perselisihan turun dari 1,45 (2017) menjadi 0,53 (2021), pola yang konsisten dengan mediasi tekanan ekonomi melalui konflik.Ekonomi bekerja sebagai pemicu hulu, sedangkan perselisihan menjadi dalil hukum hilir. Pencegahan memerlukan pembedaan antara ketidakmampuan dan keengganan memberi nafkah serta mediasi yang memuat konseling keuangan.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Al-Syatibi, I. (1997). Al-Muwafaqat fi usul al-shari‘ah (Vol. 2). Dar Ibn ‘Affan.

Al-Zuhaili, W. (1985). Al-Fiqh al-Islami wa adillatuh (Vol. 7). Dar al-Fikr.

Amato, P. R., & Beattie, B. (2011). Does the unemployment rate affect the divorce rate? An analysis of state data 1960–2005. Social Science Research, 40(3), 705–715.

Amato, P. R., Booth, A., Johnson, D. R., & Rogers, S. J. (2007). Alone together: How marriage in America is changing. Harvard University Press.

Amato, P. R., & Previti, D. (2003). People’s reasons for divorcing: Gender, social class, the life course, and adjustment. Journal of Family Issues, 24(5), 602–626.

Auda, J. (2008). Maqasid al-shariah as philosophy of Islamic law: A systems approach. International Institute of Islamic Thought.

Ayuningtyas, A. D. (2024, 13 Juni). Perselisihan terus menerus jadi faktor perceraian paling tinggi di Indonesia. GoodStats. https://goodstats.id/article/perselisihan-terus-menerus-jadi-faktor-perceraian-paling-tinggi-di-indonesia-8hs5b

Badan Pusat Statistik. (2025). Jumlah perceraian menurut provinsi dan faktor penyebab perceraian (perkara), 2024. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMyMwMDAw/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor-penyebab-perceraian--perkara-.html?year=2024

Becker, G. S. (1973). A theory of marriage: Part I. Journal of Political Economy, 81(4), 813–846.

Becker, G. S. (1981). A treatise on the family. Harvard University Press.

Blau, P. M. (1964). Exchange and power in social life. John Wiley & Sons.

Cammack, M., & Heaton, T. B. (2011). Explaining the recent upturn in divorce in Indonesia: Developmental idealism and the effect of political change. Asian Journal of Social Science, 39(6), 776–796.

Chzhen, Y., Howarth, C., & Main, G. (2022). Deprivation and intra-family conflict: Children as agents in the Family Stress Model. Journal of Marriage and Family, 84(1), 121–140. https://doi.org/10.1111/jomf.12791

CNBC Indonesia. (2025, 26 Oktober). Fenomena baru di RI: Istri ramai-ramai gugat cerai suami, ada apa? https://www.cnbcindonesia.com/research/20251026105301-128-679268/fenomena-baru-di-ri-istri-ramai-ramai-gugat-cerai-suami-ada-apa

Conger, R. D., & Elder, G. H., Jr. (1994). Families in troubled times: Adapting to change in rural America. Aldine de Gruyter.

Conger, R. D., Conger, K. J., & Martin, M. J. (2010). Socioeconomic status, family processes, and individual development. Journal of Marriage and Family, 72(3), 685–704.

Conger, R. D., Elder, G. H., Jr., Lorenz, F. O., Conger, K. J., Simons, R. L., Whitbeck, L. B., Huck, S., & Melby, J. N. (1990). Linking economic hardship to marital quality and instability. Journal of Marriage and the Family, 52(3), 643–656.

Conger, R. D., Rueter, M. A., & Elder, G. H., Jr. (1999). Couple resilience to economic pressure. Journal of Personality and Social Psychology, 76(1), 54–71.

Darmawati H. (2024). Peningkatan perceraian karena faktor ekonomi di Kota Makassar (tinjauan yuridis). Aqidah-Ta: Jurnal Ilmu Aqidah, 10(1), 64–74. https://doi.org/10.24252/aqidahta.v10i1.53301

Dew, J., Britt, S., & Huston, S. (2012). Examining the relationship between financial issues and divorce. Family Relations, 61(4), 615–628.

Faki, B. K., & Adi, I. R. (2026). Marriage in crisis: Causes and consequences of divorce among young couples in Mtoni Ward, Zanzibar. JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo), 10(1), 1–14. https://doi.org/10.21580/jsw.2026.10.1.31428

Firdausiyah, V. (2023). Putusan hakim agama dalam masalah cerai gugat pada suami yang tidak memberi nafkah perspektif hukum positif dan hukum Islam. Jurnal Al-Hukmi, 4(1), 175–186.

Fitri, I. S. (2022). Faktor penyebab tingginya angka cerai gugat di Pengadilan Agama Bandung. Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah: Jurnal Hukum Keluarga dan Peradilan Islam, 3(1), 99–114. https://doi.org/10.15575/as.v3i1.17547

GoodStats. (2024, 21 Mei). Perselisihan dan pertengkaran jadi faktor utama perceraian di Indonesia. https://goodstats.id/article/perselisihan-dan-pertengkaran-jadi-faktor-utama-perceraian-di-indonesia-jsmD6

GoodStats. (2025, 29 Juli). Simak faktor utama penyebab perceraian di Indonesia 2024. https://data.goodstats.id/statistic/simak-faktor-utama-penyebab-perceraian-di-indonesia-2024-OJc0n

Homans, G. C. (1958). Social behavior as exchange. American Journal of Sociology, 63(6), 597–606.

Homans, G. C. (1974). Social behavior: Its elementary forms (Rev. ed.). Harcourt Brace Jovanovich.

Ibn Qudamah. (1997). Al-Mughni (Vol. 11). Dar ‘Alam al-Kutub.

Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Jones, G. W. (1994). Marriage and divorce in Islamic South-East Asia. Oxford University Press.

Karney, B. R. (2021). Socioeconomic status and intimate relationships. Annual Review of Psychology, 72, 391–414.

Karney, B. R., & Bradbury, T. N. (1995). The longitudinal course of marital quality and stability: A review of theory, method, and research. Psychological Bulletin, 118(1), 3–34.

Killewald, A. (2016). Money, work, and marital stability: Assessing change in the gendered determinants of divorce. American Sociological Review, 81(4), 696–719.

Krippendorff, K. (2019). Content analysis: An introduction to its methodology (4th ed.). SAGE Publications.

Kurniawan, A. (2016, 28 Oktober). Dibanding cerai talak, gugat cerai pada 6 tahun terakhir jadi tren. NU Online. https://nu.or.id/balitbang-kemenag/dibanding-cerai-talak-gugat-cerai-pada-6-tahun-terakhir-jadi-tren-4r5j2

Levinger, G. (1976). A social psychological perspective on marital dissolution. Journal of Social Issues, 32(1), 21–47.

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi). Kencana.

Masarik, A. S., & Conger, R. D. (2017). Stress and child development: A review of the Family Stress Model. Current Opinion in Psychology, 13, 85–90.

Maskur, Madyan, S., & Hasan, N. (2022). Intensitas kasus cerai gugat pada masa pandemi Covid-19 di Pengadilan Agama Bangil Pasuruan. Intizar, 28(1), 11–18. https://doi.org/10.19109/intizar.v28i1.12300

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Munthe, M., & Firmansyah, H. (2022). Analisis penyebab meningkatnya angka perkara cerai gugat tahun 2020–2022 di Pengadilan Agama Medan Kelas IA. Al-Manhaj: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, 4(2), 679–690. https://doi.org/10.37680/almanhaj.v4i2.2198

Myranika, A., Ramdhani, D., Pandia, H., Mulatsih, S. N., Yusuf, Y., & Febriantika, D. (2024). Divorce perspectives: A juridical and economic analysis of divorce claims by the wife and its implications for family dynamics. Ijtihad: Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam, 18(1), 59–68. https://doi.org/10.21111/ijtihad.v18i1.12419

Nurlaelawati, E. (2010). Modernization, tradition and identity: The Kompilasi Hukum Islam and legal practice in the Indonesian religious courts. Amsterdam University Press.

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Rofi, A., & Salsabila, G. (2022). Analisis konteks wilayah terhadap perceraian di Provinsi Jawa Timur. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 15(1), 1–13. https://doi.org/10.24156/jikk.2022.15.1.1

Ross, D. B., Gale, J., Wickrama, K. K. A. S., Goetz, J., & Vowels, M. (2019). The impact of family economic strain on work-family conflict, marital support, marital quality, and marital stability during the middle years. Journal of Personal Finance, 18(2), 9–24.

Rusbult, C. E. (1980). Commitment and satisfaction in romantic associations: A test of the investment model. Journal of Experimental Social Psychology, 16(2), 172–186.

Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2019.

Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2023.

Syarifuddin, A. (2006). Hukum perkawinan Islam di Indonesia: Antara fiqh munakahat dan undang-undang perkawinan. Kencana.

Thibaut, J. W., & Kelley, H. H. (1959). The social psychology of groups. John Wiley & Sons.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30

Terbitan

Bagian

Articles